Perempuan Penjaga Dermaga

Perempuan Penjaga Dermaga

Aku adalah seorang perempuan penjaga dermaga. Perahu favoritku berwarna biru bertuliskan matahari. Seorang nahkoda di dalamnya, adalah yang hampir paling aku cintai. Ia berlayar sangat jauh. Sampai-sampai doaku tak mampu memeluknya.

Sesekali ia pulang. Aku selalu menyambutnya dengan jingga-jingga langit yang menghiasi percakapan kami. Namun, ia tidak pernah menceritakan apapun tentang petualangannya. Lautan seperti apa yang ia taklukan, pulau mana yang ia singgahi, bajak laut siapa yang ia perangi, atau ikan-ikan apa yang ia tangkap, semuanya adalah rahasia yang tak pernah ia sebut.

Tatapan kami begitu singkat. Terkadang matanya timbul ketika fajar, dan terbenam kembali ketika malam menyapa. Begitu sepanjang tahun. Sampai aku sadar, bahwa aku hanyalah seorang perempuan penjaga dermaga.

Semoga ia dan petualangannya -- selalu diberikan keselamatan.




Andaikan, Ayah dan Ibu berpuisi

Andaikan, Ayah dan Ibu berpuisi

Sepasang manusia yang wajahnya tetap kulihat meskipun aku sedang memejamkan mata. Dari mereka, mengalir darah-darah yang membuatku hidup. Juga, untaian kromosom yang mereka wariskan, menjadikan aku sebagai eksistensi yang tunggal. Yang berbeda dari yang lain, saudaraku, temanku, tetanggaku, mereka tidak memiliki sepasang bola mata, yang aku dapatkan dari pada ayah dan Ibuku.


Mula-mula mereka mengajariku mengenali benda-benda, dari nama-nama sampai asal-usulnya. Kemudian, aku diajak menyusuri huruf-huruf, dari A sampai Z, hingga aku bisa membaca. Mereka juga menuntunku pelan-pelan sampai aku dapat mengucapkan kata-kata dan kalimat, sebagai modalku untuk berbicara dan berucap. Sampai situ saja, mereka tidak meneruskannya. Karena kata mereka, paragraf dan esai-esai panjang, adalah tugas sekolah dan guru-guru untuk melanjutkannya.


Kemudian aku bersekolah. Mengenali banyak bacaan, esai, bunyi-bunyi sastra dan karangan. Bermacam-macam dialog diperkenalkan. Guru bahasa di sekolah mengajariku menulis dialog panjang, namun ketika sampai di rumah, dialog itu memendek. Sebab tidak pernah kupraktikan bersama ayah dan Ibuku.


Di rumah, Ibu hanya berkata:


"jangan pulang malam-malam",

"jangan kebut-kebutan di jalan ",

"jangan main jauh-jauh",

"jangan jadi bandar narkoba",

dan "jangan-jangan lainnya"


Sementara ayah, dia pun hanya berkata:


"harus jadi anak yang sukses",

"harus bisa bikin bapak dan Ibu bangga",

"harus sekolah tinggi-tinggi",

"harus ini, harus itu",

Dan harus-harus yang lainnya.


Bahasa Indonesia, adalah bahasa yang kaya. Begitu kata guruku di sekolah. Namun ayah dan Ibu miskin kosa-kata, mereka hanya kenal dengan kata "Harus dan Jangan". Padahal sesekali juga, kerap kudengar bahwa "jangannya" Ibu berbenturan dengan "harusnya" ayah.


Tetapi kemudian di sekolah aku belajar puisi. Sebuah bait-bait yang merepresentasikan pengalaman panjang manusia. Keindahan dalam suatu waktu, bisa di wakilkan oleh satu baris. Kesakitan dan perih yang tak berujung bisa diselipkan dalam satu sajak, dunia dan semesta yang luas bisa dipetakan ke dalam satu kata bermajas. Begitulah puisi kata guruku.


Puisi tidak perlu panjang-panjang. Puisi bisa dicicil pelan-pelan dan berangsur-angsur. Berbeda dengan novel dan karangan yang bisa selesai dalam satu buku. Sebuah puisi, yang hanya setengah halaman bisa menjadi naskah yang tetap mengalir sepanjang waktu.


Puisi adalah rumah dari kata-kata panjang, yang berkumpul dalam satu tempat, untuk bermusyawarah dan memutuskan mengenai bunyi seperti apa yang mampu mewakili kisah mereka.


Aku menduga, bahwa selama ini ayah dan Ibu itu sedang berpuisi. Saat Ibu berkata jangan pulang malam-malam, barangkali itu adalah sajak yang bunyi lengkapnya jika ditafsirkan adalah:


jangan pulang malam-malam

sebab malam adalah waktu yang kelam

beberapa Ibu kehilangan anaknya ketika malam

aku tidak ingin menjadi Ibu yang seperti itu


atau, ketika Ibu berkata jangan main jauh-jauh, sebenarnya Ia hendak berbisik:


jangan main jauh-jauh

aku dan pelukku ingin dekat denganmu

meskipun kini engkau sudah tumbuh dan besar

aku tetap ingin menggendongmu

dalam pelukan hangat

yang aku khawatir engkau sudah lupa

jangan main jauh-jauh

jika main jauh-jauh

ajaklah aku


Begitulah, begitulah kuduga Ibu. Ia hendak mengatakan itu, tetapi ia tidak bisa. Sebab mungkin Ia tidak pernah diajari oleh gurunya, ketika Ia bersekolah.


Sementara ayah?. Ayah sangat sering berkata, "kamu harus sekolah yang tinggi ya". Sebuah kalimat suruhan yang membebani pundak dan kepalaku setiap hari. Namun kiranya, dewasa ini kusadari, seperti inilah yang ingin ayah ucapkan.


Nak, kamu harus sekolah tinggi-tinggi

supaya orang-orang tidak merendahkan kita lagi

belajarlah dengan giat dan tekun

sebab menjadi bodoh seperti ayah

adalah hal keji dan memalukan


Nak, sekolahlah tinggi-tinggi

agar bintang di langit bisa kau pijak

dan matahari bisa kau genggam


Nak, sekolah tinggi-tinggi itu

seperti apa rasanya?


Mungkin, selama ini mereka ingin menyiratkan hal yang demikian. Tetapi, mereka bukanlah seorang penyair. Kata-kata mereka tidaklah indah secara eksplisit. Tugas kita adalah menafsirkannya. Menafsirkan dengan bias dan asumsi, bahwa mereka menyayangi, namun payah dalam berkata-kata.


Betapa malangnya ayah dan Ibu. Mereka tidak bisa mengatakannya, sebab tidak pernah diajari untuk bisa mengatakannya. Suara mereka tertahan pada kata "harus" dan "jangan". Suatu hari, aku ingin berteman dengan mereka, dan membatunya agar bisa mengungkapkan segalanya.



Antologi Puisi - Juni 2025

Antologi Puisi - Juni 2025

Juni yang singkat

Sang Pembuat Akta


seorang laki-laki menjumpaiku di pagi hari
wajahnya sumringah berseri-seri
belum sempat kami bertukar kata
ia menyapa dengan bahagia


"Buatkan satu akta, untuk anak pertamaku
namanya Ari lahirnya bulan februari"


dua tahun kemudian ia kembali
dari depan kantor ia sudah berlari-lari


"Hai Pak, catat anak keduaku
Hujan namanya, sepekan yang lalu lahirnya"


sungguh lama kami tak berjumpa
tiba-tiba kepalanya bersua di depan mata


aku bertanya kepadanya
bersiap mengucapkan selamat
atas anaknya yang ketiga


"atas nama siapa dan kapan?"
tanyaku beserta senyum perlahan


ia menjawab dengan kepala menunduk
"istriku, seminggu yang lalu"


aku mengusap pundaknya yang hampir runtuh
suara kami membisu
jiwa kami saling memeluk


Sang Imam Syiah


ketika aku sibuk mengurus jenazah Nabi
Anshar dan Muhajirin sudah berdeklarasi
menunjuk Abu Bakr sebagai pengganti
namaku tak disebut dan terlewati
padahal aku paling dekat dengan Nabi


Umar kemudian melanjutkan
sebab katanya
aku masih kekanak-kanakan
serta keras kepala


dalam sekaratnya
Amirul Mukminin kebingungan
aku atau Utsman?


Utsman berdarah-darah selama 12 tahun
sekuat tenaga aku tetap patuh
terhadap segala kekeliruannya


Naas dia mati ditikam
sementara mata orang-orang menuduhku
sebagai seorang penikam


kini, giliranku menjadi khalifah
aku langsung diburu Zubair, Thalhah, dan Aisyah
terdengar juga kudeta dari Suriah
berdiri dengan gagah seorang Muawiyah


Aku berperang melawan isteri Nabi
melawan sahabat pertama Nabi
melawan penolong Nabi
sementara Nabi adalah sepupuku sendiri


Dan pada akhirnya aku mati
dengan tragis dan menyedihkan


lalu, katakan kepadaku sekarang?
apakah anakku, Hasan
menjadi khalifah yang tenang?


Oh, sungguh Muhammad
kenapa engkau pergi
tanpa meninggalkan warisan konstitusi


Perempuan Pemain Parlay


aku berdiri
sebagai daftar pilihan gandamu
yang kau anggap benar
ketika sudah tidak ada lagi jawaban
yang mampu kau uraikan


di sela-sela kebuntuan otak dan hatimu
namaku merangkak naik
sebagai de javu yang samar-samar


engkau mengacak setiap wajah
dan wajahku muncul berkali-kali
dalam perjudian putus asamu


maka ketahuilah
bahwa aku adalah jawaban yang salah
dan bahwa aku bukanlah hadiah
dari perjudian yang tak pernah kau menangkan




Antologi Puisi - Mei 2025

Antologi Puisi - Mei 2025

Bulan ini sangat singkat dan sepi. Kami kehilangan telaga beserta dengan mata airnya. Ada lima puisi yang kami tulis. Berikut adalah kelima itu.


Ashar


engkau tiba

ketika sepenggal bayangan

sama panjang dengan semua yang ada


menjemputku dari kesibukan

yang memalingkanku sepanjang waktu


aku mengabaikan kehadiranmu

menunda bertemu denganmu

dan pura-pura engkau tak pernah memanggil

karena aku mengira

waktu akan memanjang tiba-tiba

bersamaan dengan matahari yang tergelincir

engkau pergi tanpa rasa khawatir


ketika langit-langit menjadi ungu

aku sudah kehilanganmu

dan segala yang aku miliki




~~~

Pesona Anti Rokok


ingin kuhembuskan berkali-kali

asap-asap kretek kering

di wajah mas-mas yang memesona itu


di telinganya

ingin kubisikan

getaran gurih tembakau yang terbakar api


semoga dia panjang umur

karena tak pernah berurusan dengan rokok

semoga aku juga panjang umur

karena memperpanjang hidup rokok


~~~


Dikotomi Asmara


seorang anak muda

dengan ayat-ayat tentang cinta

mengecup kening kekasihnya


satu dunia melihat dan memuji

"wah... mesra sekali kalian berdua"


anak muda yang lain

pergi ke seberang bundaran cibiru

dekat dengan polda

tak jauh dari kampus islam ternama

ia membeli sebotol air

yang cukainya membantu negara


belum habis ia meneguk

satu dunia sudah siap mengutuk

"dasar pemabuk !!!"


satu pemuda bermesraan dengan wanita

satu lagi dengan sebotol kawa-kawa

tetapi dunia

melihatnya dengan kaca mata yang berbeda


~~~


Telaga Winah


aku belum siap kehilanganmu

benar-benar belum


engkau adalah gerimis

yang gemercik airnya

menggelitik pundak dan kepalaku


tak pernah sekalipun

engkau menjadi hujan atau badai

wajahmu tetap teduh dalam setiap cakrawala

hangat dalam setiap malam


kini, ketika engkau sudah tiada

aku dan seluruhku menjadi kering dan tandus

merindukan sederet embun

yang pernah kausajikan di setiap pagi


~~~

Carcinoma Mammae


payudara Ibu

bergelantungan di dadanya

tempat aku tumbuh dan berteduh


ketika aku sudah tidak lagi pantas

untuk menghisap dan merabanya

Ibu semakin tua dan rapuh

lalu, dibawanya dia ke rumah sakit


dari bilik kamar yang hening

ketika Ibu tertidur pulas

dokter mencuri payudaranya

ia mencuri dengan susah payah

dengan jemari yang berdarah-darah


kuteriaki ia maling

tetapi Ibu berterima kasih kepadanya


kini Ibu semakin kurus kering

sama sepertiku waktu kecil

bedanya, Ibu tak lagi punya tempat

untuk tumbuh dan berteduh

~~~


Puisi ditulis oleh Thoriq Al Mahdi








Antologi Puisi - April 2025

Antologi Puisi - April 2025

April hampir begitu panjang. Ia bermula dengan kata maaf yang menggema di mana-mana.

An Introduction to Real Analysis


kita menari-nari di sebuah lapangan
yang begitu rapat dan panjang
melangkah dari nol sampai satu
melihat himpunan cantor berbaris
yang titiknya ada tak hingga
namun panjangnya tidak ada


engkau mengajakku menepi
pada suatu himpunan buka
namun kita tidak pernah sampai
di tepian itu


saat kita mendaki lembah weierstrass
yang begitu curam dan tajam
bola matamu berkedut dan ketakutan
"fungsi ini kontinu,
tetapi tidak pernah terdiferensialkan"


oh lihat itu !!
ekor dari barisan cauchy
kita mengikutinya sejauh mungkin
semakin jauh, semakin dekat
semakin dekat
sampai jemari kita kian melekat

Selamat Hari Buku


engkau menulis banyak hal
di hidup seseorang


meninggalkan luka dan kepedihan
yang kau tak sadari
hal itu pernah terjadi


kalimat-kalimatmu bergentayangan
menghantui ia sepanjang malam
menetap di hidup seseorang yang bisu
yang tak mampu menegur salahmu


halaman-halamannya terus bertambah
menyimpul sebuah buku panjang
yang hanya kau tulis
namun tak pernah kau baca


mungkin dengan sedikit maaf
dapat merubah alur ceritanya
namun sedikit maaf
tidak mengurangi tebal bukunya


sedikit maaf
hanya mengaburkan kata-kata pada halamannya

Selamat Hari Perempuan


aku ingin menjadi seorang perempuan
untuk mengenakan lipstik dan gaun-gaun cantik
meskipun di mata laki-laki
aku tetap kurang menarik


aku ingin menjadi perempuan
untuk merasakan gelisah tak tertahan
ketika melangkah di trotoar malam
sendiri dan gemetar
menunggu cahaya meredam ketakutan


aku ingin menjadi perempuan
agar bisa menjadi saksi abadi
kemesraan antara kapitalisme dan patriarki
yang membelengguku setiap hari


aku ingin menjadi perempuan
agar namaku disebut tiga kali
meskipun aku direndahkan berkali-kali


suaraku dianggap perlawanan
diamku disebut plin-plan
padahal dari rahimku
lahir budaya dan peradaban


aku
tidak bisa menjadi perempuan
sebab tidak punya keberanian
seperti yang dimiliki oleh seorang perempuan

Pergi dan Redup


aku telah berpaling dari matamu
mata yang begitu jahat
yang menjebakku dalam kepalsuan


aku telah meninggalkan senyummu
senyum yang begitu tragis
yang kerap membunuh harapan


ketika wajahmu sudah memudar
aku tidak akan pernah memungutnya lagi


meski di kemudian hari
kita tak sengaja saling bertatap
bukan berarti aku kalah
hanya saja
engkau adalah dunia
yang tak bisa aku sembunyikan
meski mataku terpejam


Izanami


kita bercengkrama
pada tatapan asing
yang mempertemukan kita


dan lalu berpisah
pada tatapan hampa
yang mengasingkan kita

Perjalanan di Bandung


aku menjumpaimu kembali


bersandar pada pundak
yang lebih kuat dariku
berteduh pada suara
yang lebih menerima jeritanmu


dahulu
percakapan kita membanjiri
jalan-jalan hangat seisi bandung


di setiap lampu merah
engkau berbisik tentang wacana rumah
di setiap persimpangan
engkau merangkai hidup dan masa depan
yang sekarang sudah kita lewatkan

Aster & Matahari


aster putih
dipetik di pinggir jalan
daun-daunnya gugur sepanjang jalan
jalan yang tak pernah sampai


matahari
cahayanya memeluk dari jauh
membelai ragu-ragu sebuah raga
raga yang sudah tidak utuh
raga yang hampir runtuh

Hawa


kepada perempuan
yang menjadikan kami hidup di bumi
bagaimana rasanya memahami
surga, Tuhan, dan laki-laki seorang diri?


kepada perempuan
yang dari rahimnya bermula perabadan.
mana yang lebih menyenangkan?
hidup sebagai tulang rusuk Adam
atau ditakdirkan menjadi pewaris kehidupan


kepada perempuan
yang paling awal menerima dosa dan murka Tuhan
tidak usah merasa bersalah
sebab yang demikian
memang sudah tergariskan


engkau adalah Ibu pertama
yang kedua bola matanya menangis dan menganga
menyaksikan kepergian dari anaknya


semoga kita bertemu kembali di surga
memakan buah khuldi
sebanyak-banyaknya
di hadapan Tuhan
yang membawamu ke dunia

Doa di Thaif


aku menatapnya
seorang laki-laki menjinjing kebenaran
memasuki gelap dan tanah penuh kesukaran


belum sempat ia berbagi cahaya
bebatuan menghujani tubuhnya
orang-orang mengusir dan memukuli
ia harus mati sebelum pulang


dalam lorong-lorong
ia dikeroyok oleh yang ia cintai
bertubi-tubi tanpa ampun


sepasang bantuan datang
gunung-gunung siap membela
tetapi ia berdoa
"asalkan Engkau wahai Tuhan,
tidak marah kepadaku,
kuterima segala nasibku di dunia"

Puisi yang Kabur


untuk puisi-puisi yang tak jadi kutulis
maaf telah menyembunyikanmu
dalam rasa khawatir dan takut
yang membuatmu terpendam dalam-dalam


engkau tersusun dengan buru-buru
dengan rasa marah yang tiba-tiba
dan bahagia yang singkat


suatu saat
kembalilah datang
aku akan menulismu lagi
dan berjanji membacamu berkali-kali

Melucuti Kata-Kata


kepada puisi yang sudah terlanjur kutulis
maaf telah memuntahkanmu sembarangan


membiarkanmu telanjang
dan disaksikan banyak orang


engkau tidak perlu pulang
bergentayanganlah dengan terang-terangan


tidak usah malu
jika kosa katamu terlalu baku
tidak usah gelisah
jika diksimu begitu payah


aku menulismu tidak untuk meraih nobel sastra
engkau adalah teman
dan kita sama-sama bisa berbicara


Ingatan yang Tak Pernah Rabun


hari ini
kaca mataku hancur
berkeping dan remuk tak tersisa


dunia begitu samar-samar
aku lupa dengan warna-warna
semua benda kutatap ragu-ragu
aku lupa dengan bentuk-bentuk
segalanya tampak tidak jelas


kecuali wajahmu
bola matamu
senyummu
dan alis kecilmu
yang setiap pikselnya masih kuingat
tersimpan dengan baik
di setiap sel-sel mataku

Akhirnya, Jaenuri Siap Diwisuda


aku mengenalnya sejak maba
banyak tingkah namun tidak memiliki aba-aba
ototnya kekar bertenaga
namun di hadapan perempuan
ia lemah tak berdaya


berbulan-bulan Jaenuri bertarung dengan skripsi
ia hampir mati berkali-kali
tetapi selalu selamat
lagi, lagi, dan lagi


kemarin
Jaenuri dibawa ke rumah sakit
dokter bertanya riwayat penyakit
aku menjawab:
kesurupan dan fanatik Persib


hidupnya dipenuhi oleh tiga hal
Henhen, Timnas, dan Menghina Towel


kini revisinya telah usai
ia siap untuk wisuda
memakai toga
melepasnya
berpisah dengan teman-teman
serta kenangan di dalamnya



Puisi ditulis oleh Thoriq Al Mahdi

Antologi Puisi - Maret 2025

Antologi Puisi - Maret 2025


Kami sangat terlambat menyadari, bahwa seuntai puisi tidak hanya datang dari sepasang perasaan manusia. Ia ada di depan mata, di mana-mana, dan menjelma apa saja. Di bulan ini, ada 16 yang kami tulis, berikut adalah 16 itu.

Konveksi Termal


kita menepi dari angin dan badai
duduk dan saling menatap di sebuah kedai
menceritakan tentang apa yang sudah
dan apa yang belum


sepasang anggur kau pesan
sebelum percakapan kita
hanya diwakili oleh gerak mata
yang diam-diam saling memohon
agar tidak kemana-mana


malam itu
pada akhirnya
kau membiarkan dua hal pergi:
aku, dan kehangatan dalam gelasmu

Fitting Kurva


engkau adalah seuntai kurva
yang diam-diam berusaha kuhampiri
dengan polinom-polinom berderajat
yang kususun sepanjang-panjangnya


semoga doamu tak pernah putus
dan selalu terdiferensialkan di segala orde
agar kita lebih dekat
melekat dengan hangat di sepanjang interval

Wisudalah, Fadli Lebih Suka Tidur


pagi-pagi sekali
seribu seratus sembilan sembilan orang
bercermin anggun dan berdandan rapi
kecuali Fadli
yang sibuk melarikan diri dalam mimpi


satu per satu orang disebut nama
mereka datang dan bertahta toga
kecuali Fadli Febriana
yang bersembunyi seolah tak bernama


semuanya dihadiahi kata-kata
medali, dan bunga-bunga juga mereka terima
sebagai tanda selesai
kerja keras dan usaha


selamat atas perayaan wisuda
kecuali fadli,
selamat atas perpisahanmu
dengan yang kaucinta

Pelaut Amatiran


ketika menatap wajahmu
jiwaku mengucap doa:
bismillahi majreha wa mursaha


seolah di kelopak matamu
samudera terbentang luas
dan lautan terhampar lepas


aku bergegas dan berkemas
menaik bahtera
dan menjadi seorang nahkoda
yang siap mengarungi keujudanmu


air matamu adalah hujan
dan tangisanmu adalah badai
namun ketika terseret gemuruh riaknya
aku tidak akan pernah lompat dari kapal


biarlah aku dan segala yang kubawa
mengalah dan berserah
pada ombak yang kau hembuskan


sebab tenggelam dalam kesedihanmu
adalah kematian yang paling aku tunggu

Cara Memasak Ketan Susu


bersihkan segenggam beras ketan putih
dengan air
yang mata airnya adalah air matamu


tiriskan dalam tempo waktu yang sama panjangnya
dengan keheningan di pertemuan terakhir kita


tuangkan satu sendok garam
segelas santan kelapa
dan sehelai daun pandan
untuk menjadikannya kaya akan rasa
seperti suka dan duka yang telah melewati kisahnya


tanak dengan api yang menyala-nyala
seperti amarah yang hampir memisahkan kita


jika sudah matang,
sajikan dengan susu yang kental.
sekental darah dan luka yang mengasingkan tatapan kita


sesegera mungkin harus dimakan
sebab jika didiamkan terlalu lama
ketan pun akan bertindak sebagai manusia
yang mengeras dan acuh disapa

Orang Payah


kita berdiri di persimpangan
aku melambaikan tangan dengan rapuh
sementara air matamu hampir mendidih


dunia mengutuk perbuatanku
hanya karena tangisanmu lebih kencang


semenjak hari itu
engkau tak berhenti melangkah
berbeda denganku
yang tak sanggup berpindah

Kenaifan Sedang Tutup


kemudian
kutemui seseorang setelah dirimu


banyak hal yang telah kami lalui
membicarankanmu salah satunya


kejahatanmu
keangkuhanmu
sikap egoismu
semuanya kedeskripsikan kepadanya
dengan rapih dan tanpa ampun


satu-satunya hal
yang kurahasiakan
adalah betapa indahnya cinta
yang pernah saling kita berikan

Lalay


Puisi buat Gibran.


dahulu
tidur kami diiringi pupuh kinanti
"budak leutik bisa ngapung..."
kini
hidup kami dibayang-bayangi ironi
"budak leutik bisa jadi wapres."

Mewakili Kehampaan


aku ingin mencuri
harta-harta dunia dan seisinya
dalam gelap
yang Tuhan pun tak mampu melihatnya


aku ingin merampas
hak-hak manusia rapuh
biarlah mereka menderita dan menjerit
lagipula, kematian akan menjemput
di sela-sela teriakannya


aku ingin menuliskan kembali
dalil-dalil negeri ini
dengan kalimatku sendiri
untuk memperkaya aku
dan meraih supremasi golonganku


tidak ada kebaikan
selain apa yang aku mau
tidak ada keadilan
selain apa yang aku inginkan


namun, aku tidak bisa melakukannya
karena jabatanku hanyalah seorang rakyat
bukan wakilnya

Hamba yang Ingin Menjadi Co-Author


di halaman selanjutnya
apakah nasibku lebih rapuh
dari kepayahanku di hari ini


pada paragraf berikutnya
apakah hujan kepedihan
masih akan mengguyur jiwaku


seharusnya
Engkau memberikan kesempatan
kepada orang-orang
untuk menuliskan takdirnya sendiri

Ibu Menduakan Tuhan


di suatu malam
ibu bertengkar dengan tanah
kepalanya berkali-kali membentur lantai


pada jeda benturannya
ibu menahan kepala dengan lama
berbisik pada sajadah
yang entah apakah bisa mendengarnya


kening ibu belum juga berdarah
namun air matanya mengucur
ke berbagai arah


di sela tangisannya
ibu berkata:
"Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk anakku"


Ibu telah murtad
sebab ia menuhankan anaknya sendiri

Ketahanan Sandang


di sebuah butik
seorang anak menunjuk gaun tercantik
yang indah berkilau penuh manik-manik


tanpa menatap harga
sang ayah membawanya ke kassa
sebagai hadiah
atas tuntasnya dia berpuasa


sementara di luar
berdiri seorang gadis mungil
tubuhnya lusuh menggigil
memanggul sekarung penderitaan


kepada Ibunya, dia menggema:
"puasa kita lebih lama,
apakah baju baruku
lebih bagus darinya?"


sang Ibu menjawab:
"mereka berpuasa karena perintah Tuhan
sementara kita memang tak bertemu dengan makanan"


satu anak mendapat baju barunya
satu anak melanjutkan kelaparannya

Andai Mayit Berpuisi


aku ucapkan terima kasih
kepada para romobongan
yang menghantarkanku pulang


di perjalanan antara rumah ke rumah
suara kalian menggema
sementara aku hanya bisa membisu


langkah kaki dan kepergian sendal
menjadi pertanda
bahwa dunia sudah merelakanku untuk tiada


kini aku bersiap
menghadapi sesi wawancara
dua orang panelis akan bertanya
enam pertanyaan sudah ada kisi-kisinya


satu saja salah
maka sia-sia
hidupku selama di dunia

Idzaa Maatabna Adam


Jika seorang anak Adam meninggal dunia, maka akan terputus amalnya di dunia kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakannya.


aku terbaring
dalam kesunyian panjang
yang gelap dan sesak


dalam dinding tanpa celah
yang memisahkan "sementara" dengan "keabadian"


semasa hidup
aku jarang memberi
baik rezeki yang kupindah tangankan
atau ilmu yang seharusnya kualirkan
semuanya tertahan dalam kekufuran
yang membuat jasadku tertimbun penderitaan


dalam kesukaran yang tiada henti
sepucuk cahaya menghampiri
memberikan bahagia dan kelapangan
dua malaikat menjadi pewarta
bahwa ini adalah perkara yang ketiga
yaitu doa-doa panjang
dari anak-anak
yang memohon pengampunan

Belum Pulang


Ibu memasak banyak-banyak
tetapi aku menyantap piring restoran


Ibu merapihkan ranjang kamar
tetapi aku berbaring di rumah orang


Ibu membeli sepasang sajadah
tetapi aku bersujud di kota seberang


Ibu menggemakan takbir malam-malam
tetapi kesunyian menyelimuti bibirnya


pagi setelah lebaran
Ibu duduk di depan halaman
fajar menyium keningnya
tanah-tanah memeluk kaki rapuhnya


sepasang kaki yang mengandung sorga
tahun ini kering dan tandus
sebab tidak ada yang membasuhnya


anak IBu tidak pulang
ia menetap di tanah perantauan
terombang-ambing dalam petualangan
yang menjauhkannya dari hangat pelukan

Aku Belum Memaafkanku


selepas memaafkan semua orang
aku berdiri di hadapan cermin
menatap dengan perlahan
seseorang yang belum sempat kumaafkan


pertama-tama
aku berterima kasih kepadanya
atas kesanggupannya untuk tetap hidup
lebih lama dan lebih rumit
dari yang pernah kubayangkan


aku bertanya pelan-pelan
"sejauh ini, apa yang kurang dariku?"
dengan nada mengayun, dia menjawab
"engkau, jarang sekali memperhatikanku"


dunia berhenti sejenak
air mataku mengalir
sama deras dengan air matanya


di depan cermin retak
kami menangis bersama-sama




Puisi ditulis oleh Thoriq Al Mahdi

Orang di Masa Depan

Orang di Masa Depan

Orang di Masa Depan


Perihal dengan jatuh cinta di usia berkepala dua.
Apa yang ingin kita peroleh dari hubungan tersebut?
bukankah kita sudah pernah mendapatkan semuanya?
tawa bahagia , tangisan luka, kehangatan, kesedihan, 
bukankah hubungan sebelumnya sudah memberikan itu semua.

Lalu apa? apalagi yang ingin kita dapatkan?

kau memaksa hidupmu untuk bertemu dengan seseorang yang baru
padahal orang sebelumnya masih menjadi alasan engkau menangis di sepanjang malam.
ia tidak tergantikan, tidak dengan cara engkau yang mencari orang lain
untuk menutupi semua hal yang telah terjadi bersamanya.

usiamu sudah tidak lagi bagus untuk mengucapkan selamat pagi di sepanjang hari
atau mengulang-ulang kalimat berkali-kali kepada orang yang sama.
sungguh sudah bukan itu lagi yang seharusnya kau cari.

apa jangan-jangan kau akan membalaskan dendammu di masa lalu, kepada orang yang kau temui di masa depan?
jangan-jangan, luka yang selama ini kau rasakan, hendak kau bagi dua bersama orang itu?
terkutuklah perbuatan yang seperti demikian. 

orang selanjutnya dalam hidupmu, adalah orang yang tak berdosa atas kesalahanmu di masa lalu.
jika kau temui orang itu, maka berbuat baiklah. dan jadikan ia sebagai telaga.
sebab ia adalah mata air, yang datang kepadamu saat engkau letih dan kehausan 


--- 29 Januari 2025 // Cikutra



Dua Buah Bola Mata

Dua Buah Bola Mata

Dua Buah Bola Mata


Engkau adalah hutan dan lautan yang ingin sekali kupetualangi

maka dari itu, aku mulai belajar bahasa alam

aku belajar tentang arah mata angin

dan memahami waktu pergantian musim-musim

karena di matamu, sering terjadi badai tanpa awan mendung


sesekali juga aku belajar menyimpul tali

dan menelaah prinsip sudut elevasi

untuk berjaga-jaga dan berhati-hati

sebab engkau adalah ikatan dan ukuran yang sebentar akan kupahami


jalan masuk ke duniamu berpintukan dua buah bola mata

namun sial, ketika aku menatapnya

aku tersesat dan tenggelam tak terselamatkan


--- 15 Maret 24 // Bandung


Pesisir Perpisahan

Pesisir Perpisahan




Pesisir Perpisahan


di penghujung pekat malam yang sunyi 

kau serahkan segenap rasa tanpa ragu

kau hibahkan segumpal karsa dengan lugu


“Tuan, maukah kau menerimanya,

aku dengan berjuta masa laluku

ingin menumpang di perjalananmu.”


kemudian surya bercahaya di ufuk timur 

membentang di atas alismu yang tertidur

setengah sadar kau bertanya,

“di manakah kita?”

“di persimpangan menuju bahagia.”,  jawabku


perjalanan merambat waktu kita lanjutkan

musim gugur menghampiri

musim semi sebentar lagi

musim tangis kurasa akan datang


bau ombak mulai tercium 

suara kapal karam berbisik di antara tangis-tangis pasir pantai

“Tuan, sudah sampai mana kita.”

“Nona, turunlah, kita sudah sampai di pesisir perpisahan.”


--- 15 Oktober 2022 // BMS Raftel - Bandung

Teologi Anggur

Teologi Anggur


Teologi Anggur


marilah kita berdansa bersama anggur-anggur

meneguk bertetes-tetes fermentasinya dengan perlahan

menyusuri kilatan pikiran yang berlalu-lalang

kita pilah dan pilih jenis keharaman hidup

bahwasanya tiada perbedaan

antara meneguk anggur dan menatap mata perempuan

sama-sama mabuk dan menyengsarakan


marilah kita berdaulat bersama anggur-anggur

dengan otak kiri yang mengharap perubahan

dengan tangan kanan yang memegang tasbih

sementara otak kanan memikirkan payudara wanita

dan tangan kiri mencengkeram kawa-kawa


marilah kita merdeka bersama anggur-anggur

sebab konon katanya

sahabat kami

kakanda kami

mati di medan peperangan melawan anggur

mereka syahid.

karena di akhir hayatnya, mereka berteriak 

tajam dan memekik

"tiada anggur selain anggur"


--- 25 Desember 2023 // Dago - Bandung 

Mengubur Kepulangan

Mengubur Kepulangan


Mengubur Kepulangan

wahai gadis yang dengan bola matanya bulan terbelah
sejak perpisahan terucap di kematian petang
kata-kata harapku seribu kali berbisik pada kemalangan
merintih dan bertanya
kapan engkau pulang

wahai gadis yang dengan lembut suaranya lautan menggigil
barangkali engkau hendak kembali
ke rumah yang belum lama ini engkau singgahi
telah ku siapkan teras depan penuh burgundi
sebagai pelengkap upacara datangnya sang pujaan hati

wahai gadis yang dengan sesak tangisnya venus terjatuh
telah ku siapkan juga kubur di halaman belakang
untuk cintaku yang bunuh diri di kemudian hari
atau untuk kesalahpahaman kita yang hilang tanpa sakit hati

--- 02 Oktober 2022 // BMS Raftel - Bandung

Estimasi & Logika : Aksioma Masa Lalu #PDK

Estimasi & Logika : Aksioma Masa Lalu #PDK


Sekuntum mawar yang kutanam dalam sisa-sasa reruntuhan hatiku, kini mulai mekar kembali, berbunga dan harum berseri-seri, setelah tertimpa puing-puing masa lalu yang amat kelam, yang gelap terselimuti luka, serta penderitaan-penderitaan yang senantiasa menyayat hati. Sebelum masa itu terjadi, hari-hariku begitu sunyi dan sepi. Terombang-ambing pilu, terkunyah derita, tertimbun beban dan tertelan air mata.

Kini mawarku disemai oleh seorang lelaki, yang belum lama ini aku kagumi, namun sempat ku lupakan, karena tetap saja pada masa itu, aku selalu kalah oleh masa laluku. Jangankan untuk mendekat dan mencintai, saat itu, berkenalan dengan laki-laki adalah phobia bagi diriku sendiri.

Akan kuceritakan seseorang yang datang dengan kehampaan dan harapan, dengan rasa naif yang kadang tatapannya begitu dalam, orang yang labil akan pendirian, orang yang selalu ingkar, sekaligus orang yang sempat pernah aku sayangi, mengalahkan segalanya dan melebihi apapun, yang hidup dan berdiri di atas muka bumi ini.

Jum’at sore, di bawah kaki gunung Manglayang, diantara bukit-bukit kecil, aku berbagi sedikit kisah dengannya, mungkin satu dua paragraf akan menjadikanku lebih tenang dalam menceritakan sesuatu yang selalu saja mengganjal di hati dan pikiranku. Sebagai dua orang yang sama-sama kuliah di jurusan matematika, tentu saja bercerita dan mencoba peka terhadap masalah sosial adalah hal yang sedikit sulit, apalagi dalam persoalan cinta, yang kadang di luar nalar dan logika.

“Bagaimana masa lalumu ?”

Terlontar pertanyaan yang menuntut sebuah pernyataan dan pengakuan. Tetapi, bisa kumaklumi, karena begitulah cara matematika bertanya, tanpa lika-liku narasi, langsung ke tujuan dan inti. Namun terkadang jawaban dari pertanyaannya membutuhkan teorema pendahuluan, deskriftif pembuka, estimasi pengerjaan, aproksimasi fakta dan hasil simpulan sebagai penutup. 

Dengan rasionalitas akal, aku menangkap pertanyaannya, yang dia maksud adalah kehidupanku sebelum bertemu dengannya, seperti bersama siapa aku pernah bahagia, dengan cara apa aku bersedih, di mana aku menumpahkan tangisku dan oleh siapa aku disemai kembali.

“Dari mana harus kumulai ?”
“Dari yang paling patah”
“Apa maumu dari kisah yang nantinya kuceritakan?”
“Kuceritakan kembali”

Kala itu, Bandung terlalu dingin untuk percakapan kami yang terlanjur membeku. Namun ekspresi wajahnya begitu hangat dan tenang. Sebuah penantian, yaaa.. sebuah penantian akan kisahku. Itulah yang kubaca dari ekspresi raut wajahnya.

“Kenapa kau meminta cerita dari yang paling mematahkan hatiku ?”
“Biasanya luka dan derita akan mengubah jalan cerita”
“Cerita siapa?”
“Ceritamu, di bab selanjutnya”

Seakan sudah paham bahwa aku pernah rapuh dan runtuh, ia bertanya bak seperti seorang pengacara yang membutuhkan bukti dan fakta. Ia tahu aku pernah menderita, ia tahu aku pernah tersungkur tanpa rasa syukur, tergeletak tanpa detak, terkurung oleh waktu,terbelenggu ditakar nasib, merana terendam air mata, terluka dan tak berdaya. 

“Aku bakal cerita, tapi kayaknya ada beberapa kejadian yang udah lupa, jadi aku ceritain yang aku inget aja ya hehe”. 
“Iyaa inda”.
Inda, begitulah orang-orang memanggilku, termasuk dirinya, dipenggal dari namaku, Adinda Maharani Putri.
“Dengerin ya, jangan ngantuk tapi”.
“Iya”

Ia mengangguk seakan sudah siap mendengar segala pilu keluh kesahku. Matanya menyorot tajam ke pemandangan tepi kota, yang samar tertutup gumpalan kabut dan terbias oleh gemercik air hujan.
Kala itu, petang di barat Manglayang, aku bercerita.

 
Aksioma Masa Lalu
Pernah satu minggu aku menangis, dipatahkan oleh seorang lelaki yang ku kenal semenjak SMP, namanya Andi, aku membangun hubungan tanpa status dengannya selama 6 tahun. Selagi aku dekat dengannya, aku tidak menuntut menjadi pacarnya, asalkan dia ada untukku, aku menjamin setiap janji dan kesetiaanku. 

Sesekali di malam hari, aku mungkin sering tersadar, sebagaimana perempuan pada umumnya yang merasa cemburu apabila lelaki pujaannya dekat dengan perempuan lain, namun aku berbeda, aku sangat berbeda, aku merasa biasa saja, meskipun Andi berpacaran dengan bermacam-macam wanita, aku tetap menaruh hati padanya. Entah sampai kapan, dalam khayal dan mimpiku, yang kunantikan saat itu hanyalah dia yang pada akhirnya memilihku sebagai pelabuhan terakhir untuk hidup dan matinya, sebuah harapan klise yang selalu kumunajatkan. “Kau berharap pada dia, yang menaruh hatinya untuk orang lain”, sebuah nasehat yang seringkali terucap dari kawan baikku, Dea.

Namun apalah arti nasehat untuk orang yang mabuk asmara, sungguh tuak yang diracik oleh Andi sangatlah nikmat untuk diteguk dan dinikmati, walaupun hanya sebatas gombalan dan rayuan, tetap saja, aku mabuk, aku terbang, aku bahagia.

Selepas lulus SMA kami berpisah kota, ia tetap di Bandung, Aku berpulang ke rumah ibuku di Jogjakarta. Kami jauh, dipisahkan oleh jarak, dibatasi oleh waktu. Tetapi, seganas apapun prasangka menusuk pikiranku, aku hanya percaya bahwa Andi adalah tujuan hidupku. Kala itu, ya... waktu itu.
Menjalani hubungan LDWR (long distance without relationship) adalah ironi bagi mereka yang ingin memililiki hati orang lain yang hatinya untuk orang lain. Seperti burung camar yang sebelah sayapnya tertombak angin, aku berjalan di atas hari-hariku selama tiga tahun dengan perjuangan seorang diri, tanpa tahu apa yang sebenernya dirasakan Andi kala itu, apakah dia mencintaiku, apakah aku hanya selir dayangnya selagi ia marahan dengan permaisurinya, apakah aku hanya penjual bensin eceran, selagi ia belum menemukan SPBU terdekatnya, apakah aku hanya UIN selagi ia mencoba masuk ke UI. Entahlah, selama tiga tahun itu aku hanya berusaha mencintainya, semampuku, sekuat tenaga, hati dan pikiranku.
Pernah ia berkunjung ke rumahku, dipenghujung semester pertama tahun ketiga, setelah sekitar 2 setengah tahun tidak bertatap muka, hampir 27 bulan tidak bertukar canda dan lebih dari 760 hari tidak saling berbalas tawa. Sungguh momen tersebut adalah sebuah penantian panjang yang akhirnya datang, setelah sekian lama tidak bermuara, kini rinduku bertepi padanya. 

Di stasiun Lempuyangan, aku menghampiri raganya dengan tangis dan bahagia, dari kejauhan aku mengenal elok kepala sampai kakinya. Kusambut ia dengan lambayan tangan yang jemarinya seringkali kupakai mengusap basah pipiku di saat merindukannya, pada akhirnya aku paham, selain untuk makan dan mengusap air mata, jemariku berguna untuk menyambut dunia dan hari-hari setelah aku bertemu dengannya kembali.
Aku menghabiskan salah-satu hariku bersama Andi dengan pergi ke Pacitan, di bentangan pasir putih pesisir pantai, aku menari bersama senja merayakan kembalinya separuh sukmaku. Bola mataku menghadap langit, kucurahkan semua linangannya pada awan, seraya berkata, “Ini air mataku, ambilah. Jadikan hujan, dan turunkan tepat diatas kepalanya, agar ia tersadar, bahwa akulah satu-satunya yang menepi hingga mati, untuknya, hanya untuknya”.

Dari kejauhan aku melihatnya berdiam di bawah pohon, menatap layar handphone dan berbincang hangat lewat video call sambil berseri-seri, dalam benakku, “Ah mungkin saja itu kabar dari ibunya”. Aku berjalan merangkak diam-diam mendekatinya, perlahan seperti kura-kura dan tak terdengar seperti suara rakyat Indonesia. Jejak kakiku samar-samar, aku mencoba mengagetkannya dari belakang, tanpa ia sadari, kini aku yang berseri-seri.
Belum sampai aku mengucap sepatah dua kata, lagi-lagi luka mengubah tawaku menjadi duka, ah sial, ternyata itu bukan ibunya, itu wanita lain. 
Tidak, itu wanitanya, akulah yang wanita lain. 

Aku menjerit dan berlari kencang ke tepi karang, dalam benak, aku ingin berenang dan menjauh dari daratan luka ini, pergi ke samudera untuk menenggelamkan hidup bersama dukaku. Ah sial, kenapa... kenapa kau masih saja menusukku meskipun kita hanya berdua disini.
“Apakah belum puas kau di Bandung bersama mojang-mojangmu, apakah tak ada waktu yang kau sisihkan selama 2 tahun lebih ini untukku, walaupun hanya sebentar aku sangat mengharapkan itu, apa tujuanmu datang kesini? menghiburku atau menumpuk deritaku, bisa-bisanya kau menjamah bahagia dua wanita dalam satu jiwa. Aku pikir aku yang bahagia, di sini bersamamu, menikmati matahari tenggelam, angin pesisir pantai, pasir yang berbisik, karang yang bernyanyi dan pohon kelapa yang menari-nari. Apa yang kau inginkan dariku, Andiiii”.

Kuteriakkan semuanya pada laut, hingga semua sorot mata penghuni pesisir tertuju padaku. Tubuhku yang bergetar, menggigil dan lemas, terhempas oleh tangis dan derita, belum sempat aku tersungkur, aku ditopang dari belakang, yaa.. tentu saja, oleh penjaga pantai, bukan Andi.
Aku tidak tahu bagaimana caranya aku pulang pada waktu itu, tiba-tiba saja aku tergeletak di kamarku ketika bola mataku terbuka, dengan tangan kananku yang di usap oleh Andi, aku tersadar kembali. 

Haruskah aku menangis karena mengingat kejadian di pantai tadi, atau bahagia karena tanganku di pegang oleh Andi. Ataukah harus menangis lebih kencang karena esok Andi pulang, atau mungkin bahagia lebih ria karena Andi berbisik “Aku sayang kamu,Inda”, tepat di hadapan mata dan kepalaku.
Entahlah, aku bingung. Waktu itu, aku hanyalah si rapuh, yang sudah siap runtuh.

 

“Lalu bagaimana kelanjutannya?”
“Masih ada beberapa lagi, tetapi ini sudah mau masuk waktu magrib”
“Ya sudah, ayo pulang”
“Jadi, apa tanggapanmu?”
“Dimana akalmu”
“Hah?”
“Cinta dan kasih sayang kepada manusia yang belum sepenuhnya jadi milik kita itu perlu ditakar dan ditimbang, ikatan hanya menimbulkan keterikatan, dan pacaran hanya berujung pada pernikahan atau perpisahan. Pernikahan berujung pada kematian atau perceraian sedangkan perpisahan berujung pada perkawanan atau permusuhan. Entah bagaimana pola pikirmu kala itu, tetapi harus aku akui, kamu memang tulus, tapi bodoh.”
“Ya emangg hehe, makanya sekarang aku males sama laki-laki, semuanya sama aja, cuman bikin sakit hati”

 

Demikianlah akhir obrolan kami di sore itu, dari atas Manglayang, gemerlap lampu kota dan matahari yang pudar menjadi saksi bahwa pada akhirnya aku bisa merelakan Andi dan mampu melepasnya pergi.
Kini mungkin aku merasa nyaman dengannya, seseorang yang saat itu bersamaku, namun nampaknya ia mulai canggung dengan kalimat terakhir yang aku utarakan.

Oh iya, aku belum sempat menyebut namanya, orang yang mendengar ceritaku tadi adalah Tama, teman satu jurusanku di semester 3 ini. Aku tahu Tama suka padaku, teman satu kostnya sering memberitahuku jika Tama menyimpan foto-fotoku di galerinya, foto-foto tersebut kadang ia dapatkan ketika aku bersamanya, yang dipotret tanpa sepengetahuanku. Tetapi sesuai apa yang ia celotehkan padaku tadi, kali ini aku akan menakar dan menimbang seberapa dalam perasaannya padaku dengan Estimasi dan Logika, yang harusnya sudah kupakai dari dulu ketika bersama si playboy, Andi.

 

Selepas turun dari kaki bukit, aku dan Tama marangkak menyusuri gelapnya jalan setapak, tubuhnya yang lumayan tinggi seakan menjadi penopang dari riuhnya tiupan angin dan gemercik tetesan gerimis.

Langit Bandung sepertinya ikut muram mendengar kisahku tadi, kisah tentang sebuah kebodohan, harapan yang sia-sia, air mata yang menetes tanpa makna dan kesedihan yang selalu tak bermuara, itulah yang akhirnya kudapatkan dari 6 tahun bersama Andi. Semenjak dengannya, aku sudah bersumpah pada diriku sendiri tidak akan lagi memulainya dengan siapapun, sekeras apa perasaan meminta dan sedalam apa cinta menyetujuinya, aku sudah berjanji, bahwa aku akan sendiri, sampai nasib dan takdir mengakhiri, entah aku yang mati, atau ada laki-laki yang pada akhirnya mampu untuk meyakinkanku kembali.

“Besok kamu ada matkul apa Inda?”
“Kalkulus”
“Kalkulus berapa?”
“Ya kalkulus, semester 3”
“Kalkulusmu berbeda dengan kalkulusku, aku kan ngambil dua matkul kalkulus, kalkulus 1 dan Kalkulus peubah banyak”
“Oh iya hahahaha, makanya jangan bolos mulu, ngulangkan Kalkulus 1 nya.”
“Ya ngga apa-apa hehe, jadinya double kan dapet ilmunya”
“Terserah, Tama, hahaha” 
(aku berlari dan menari kegirangan di depannya).

Entah apa yang kurasakan saat berbincang dengannya, yang pasti aku selalu bahagia dan tertawa dibuatnya. Tama adalah orang yang mempunyai gaya khas tersendiri jika berbicara dengan wanita, seakan tiap kalimat yang ia lontarkan akan selalu tersambung pada kalimat berikutnya.
Seperti beberapa penggalan berikut, yang secara teratur dia kirim hampir di setiap malam menjelang  waktu tidur.

 

“Aku menunggumu sejak fajar menampakkan dirinya, sampai senja terbenam di selatan, namun tetap saja, kehadiranmu berkabut di antara selir angan-anganku”.
“Inda, jika selepas samudera bisa membuatku nyaman berenang di permukaannya, maka aku lebih memilih untuk menyelami air matamu, untuk menakar dalamnya jiwa dan perasaanmu, untuk menyatu bersama tawa dan tangismu”.
“Maka dengan puisi yang bagaimana lagi aku bisa merayumu, dan dengan kalimat bermajas yang mana aku bisa menundukkan segala cinta dan perasaanmu, terkadang saat kita bertegur sapa, aku sering plin-plan seperti musim gugur.”
- Emha Tama Manik




Namun ingin sekali aku berbisik padanya di kemudian hari, “Hai Tama, seuatas puisimu tidak akan pernah menjadikanku luluh, sepenggal baitmu tidak akan melunakkan hati dan perasaanku, jadi percuma saja, sajak-sajakmu hanya akan seperti kembang api, yang menghiburku untuk meledakkan dirinya sendiri”.

Tetapi, kalimat seperti demikian nampaknya belum pantas kulontarkan padanya, walaupun kita sudah kenal semenjak jadi Maba, hanya di minggu-minggu semester 3 ini kita saling bercengkrama dan bertatap muka.
Karena hari sudah semakin tua dan kendaraan umum sudah tiada, akhirnya dia memberanikan diri menghantarkanku pulang ke rumahku di Cimahi, walaupun aku sempat menolaknya tetapi Tama yang kadang dengan alibinya mampu memaksaku dengan halus untuk menyetujuinya.
Aku awalnya menolak Tama karena takut ia badmood bersamaku, Cibiru-Cimahi adalah rute paling menjenuhkan di Bandung, apalagi jika lewat jalan Soekarno-Hatta, sejujurnya kawan, kau bisa bermain ludo bersama temanmu di setiap lampu merahnya.
Namun selama di perjalanan, aku dibuat terkesima olehnya, bagaimana cara ia membuka obrolan, menyambung percakapan, mencari bahan candaan dan bahkan intermezo topik obrolan yang kadang membuatku senyum-senyum tidak karuan. 

Hingga pada akhirnya, kami menutup perjalanan pulang tersebut  dengan serak tawa dan ucapan sampai jumpa dengan isyarat dua bola mata, seraya berkata,
“Kabari aku jika sudah sampai, Tama”
“Aku mengabarimu di setiap saat Inda, mulai dari tetesan embun pagi pertama sampai menjelang waktu menutup mata, aku adalah kabar untukmu, aku ada dan tidak kemana-kama”.

Sambil berjalan dan terus memandanginya, kami tetap bertukar kata.

“Hari ini apa yang ingin kau impikan Tama”
“Apa saja, asal jangan Kalkulus” (sambil tersenyum)
“Memangnya kenapa”
“Kalkulus akan jadi mimpi burukmu malam ini Inda, aku tidak ingin kita memimpikan satu hal yang serupa di satu malam yang sama”
“Kalkulus mimpi burukku di setiap hari, hahaha” 
“Hahahaha”
Makin kukeraskan suaraku, karena jarak dan hembusan angin mulai menghalangi tutur kata kami berdua.
“Kenapa kita harus belajar kalkulus, Tama?” 
“Karena kalkulus selalu berbicara tentang taksiran, dugaan, hampiran, kemonotonan, pendekatan, perubahan, perpindahan, ketidakpastian dan ketiadaan. Begitu pula dengan hidup yang dipenuhi oleh prasangka, kejenuhan, harapan, kedewasaan dan bahkan kematian. Matematika adalah kalkulus dan kalkulus adalah kehidupan, perannya bukan hanya terletak pada hasil perhitungannya, tetapi juga dalam proses mencari jawabannya”.
“Jadi intinya apa, Tama?”
“Intinya, kita adalah kalkulus Inda, aku menghampiri dirimu dan terkadang engkau menduga diriku. Seiring waktu berjalan, kita adalah kurva tanpa fungsi, yang tidak tahu dari mana kita harus memulainya, di interval mana kita saling terbuka atau tertutup, pada waktu yang seperti apa kita saling monoton dan jenuh, dan di titik mana kita akan diskontinu yang hilang tanpa kabar, Kita adalah kalkulus Inda, hahaha”
Aku tersenyum, Tama pulang, dan harapan mulai terpancarkan.

Sejatinya Kalkulus adalah bidang yang mengutamakan kasus limit, turunan dan integral. Ketiganya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, turunan menakar tentang perubahan dan gerak, sedangkan integral adalah taksiran dan luas, keduanya dibangun oleh satu konsep, yaitu limit.
Dosenku menjabarkan secara umum, bahwa limit adalah pendekatan, ketika titik dari suatu kurva ditelaah dari dua sisi, apakah sisi kanan dan sisi kiri sepakat, jika keduanya sepakat maka nilai limitnya ada, namun jika mereka bertentangan, maka nilai limitnya tidak terdefinisi.
Analogi seperti itulah yang kini kurasakan, ketika berhadapan dengan Tama, aku harus menimbang dari dua sisi sukmaku, apakah aku harus berpegang teguh dengan janjiku untuk berhenti dengan laki-laki, atau pasrah saja untuk mencoba sesuatu itu terulang kembali, entahlah, tetapi dalam bukunya, Edwin Purcell lebih mendahulukan bab estimasi dan logika ketimbang limit,turunan dan integral. Dengan kata lain, sebelum berhadapan dengan masalah-masalah baru yang barangkali lebih rumit, alangkah baiknya untuk memantapkan pikiran dan intuisi dengan logika dan estimasinya.

Sastra, Luka, & Matematika

Sastra, Luka, & Matematika


Aku mencintaimu

Seperti paradoks hotel hilbert

Yang akan selalu ada ruang singgah dalam hatiku

Bahkan untukmu yang hanya sekedar menepi dan rehat

Kupersiapkan segalanya dengan tepat

Dengan harapan, kau akan nyaman dan menetap

 

Aku mencintaimu

Seperti selang kemotonan

Yang tak pernah menjumpai titik yang bolong

Namun dengan tetap tabah melintas di antara interval kebimbangan

Dengan keyakinan, cinta kita akan segera dipertemukan

 

Aku mencintaimu

Seperti deret Taylor & McClaurin

Yang mengajariku akan sebuah arti pendekatan

Bahwasanya nilai kenyataan berasal dari hampiran-hampiran yang terus dilakukan

Sampai di  ketakhinggaan, sampai estimasi menjadi sebuah nilai pasti

 

Kau pernah menakar seberapa besar cintaku padamu

Dengan anzat apakah itu sepuluh, sembilan, delapan atau seratus

Maka dengan tegas kujawab kala itu

Tidak !! bukan sembilan bukan delapan, cintaku padamu itu seperti Pi

Walaupun nilainya terlihat kecil, namun ia tak berujung

Pada pertemuan hati kita yang pertama

Terisyaratkan sebuah wacana bahwa kita akan selalu besama

Saat itu, dengan manisnya kau berkata :

“Tenang saja, cintaku konstan, aku tidak akan kemana-mana,

sampai sukmaku keriput dan menua, kita akan tetap berdua”

 

Namun apa yang terjadi setelahnya,

Kau pergi meninggalkan janjimu yang lalu

Menyisakan puing-puing luka yang dikemudian disebut masa lalu

Melesat jauh tak terkejar seperti kurva eksponensial

Sedangkan aku ?

Aku meratap seperti sebuah titik yang terpisah dari kurvanya

Yang tak tahu harus dipetakan kemana

Yang terombang-ambing dalam luasnya kartesian

Mengemis iba dan rasa kasihan

Berharap kau kembali dari pelarianmu

Berharap kau pulang dan mendekap dalam pelukku

 

Sebuah harapan dan mimpi yang pernah kubayangkan sebelum kau pergi adalah

Mungkin kelak, Di masa depan sana

Kita berdua akan bercengkrama dalam satu atap yang sama

Menatap langit di depan teras rumah yang kita bangun berdua

Sembari menyelesaikan beberapa permasalahan matematik rumah tangga

 

 

Menjamin bahwa jendela sejajar dengan lemari kaca

Memastikan bahwa kanopi saling tegak lurus dengan pot bunga

Menata ulang agar televisi tidak bersinggungan dengan sofa

Dan menyisipkan tokoh matematika pada nama anak pertama kita

 

 

Namun apalah daya,

Perpisahan tetaplah perpisahan

Ia menyisakan luka dan juga penderitaan

Meninggalkan kenangan yang menjadi angan-angan

Menjadi formula untuk mempelajari masa depan

Menjadi landasan teori untuk memulai kisah yang akan terjadi

Dengan harapan, kesalahan tidak akan terulang kembali

 

Satu hal yang selalu kudoaakan tentangmu saat ini.

Aku berharap bahwa kau sedang berada di Sirkuit Hamilton

Sejauh apapun kau kau pergi

Meliak-liuk kesana dan kemari

Belok kanan, lurus, putar arah atau belok kiri

Tetap saja,

Titik asal adalah rumah dan tempatmu untuk kembali


--- Mei 2021 // Rumah - Karawang

 


Tuhan Tidak Bermain Dadu, Tetapi Ia Maha Bandar

Tuhan Tidak Bermain Dadu, Tetapi Ia Maha Bandar

Kenapa Kita Mesti Bermain Slot?, Sementara Kita Adalah Hamba dari Tuhan Yang Maha Bandar.

“Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan”, begitulah kiranya motto hidup seorang penjudi yang salah menafsirkan kalimat perjuangan dari Sultan Syahrir, seorang tokoh kemerdekaan bangsa. Kalimatnya yang berupa sebuah kiat hidup yang mendorong manusia agar senantiasa memperjuangkan visi dan cita-citanya, malah dijadikan pijakan untuk menghamburkan harta dan uang di meja perjudian.


Digitalisasi perjudian di Indonesia memberikan kemudahan akses bagi siapa saja yang ingin mempertaruhkan hartanya. Hanya dengan bermodalkan nomor HP, rekening bank, dan info website gacor dari temannya, kini setiap warga negara Indonesia sudah bisa melabelkan diri sebagai pencari petir zeus dan penemu pola algoritma mesin slot. Padahal yang perlu ditemukan adalah pola pikirnya sendiri.


Mesin slot adalah perangkat judi yang dioperasikan dengan cara melepas satu atau lebih koin atau token ke dalam sebuah lubang dan menarik tuas atau menekan tombol untuk mengaktifkan satu hingga tiga atau lebih gulungan yang dibagi menjadi segmen-segmen horizontal dengan simbol-simbol berbeda. Kemenangan seorang pemain pada mesin slot akan ditentukan dari akumulasi simbol-simbol yang memiliki nilainya masing-masing. Pengembangan mesin slot menjadi software komputer dikerjakan mulai dari tahun 1994 sampai dengan 2006. Yaitu ditandai dengan munculnya kasino online di negara Karibia Antigua dan Barbuda. Hingga saat ini, telah muncul berbagai macam produk perjudian dalam bentuk slot online dengan konsep permainan yang sama, yaitu “mengatur pola sedemikian rupa, sehingga para pencari pola terjebak dalam lingkaran kemiskinan harta atau pikiran”.


Di Indonesia sendiri, mulai dari masyarakat kelas bawah sampai dengan pejabat publik dengan segala latar belakang, dirasa amat sangat menikmati jenis perjudian tersebut. Kenapa demikian? Karena esensi dari permainannya memberikan sebuah harapan dan kemenangan semu. Yang dengan berapa kali pun seseorangan mengalami kekalahan, tetap saja di dalam naluri kebodohannya akan selalu tertanam virus “Depo dulu ah, siapa tau maxwinn”.


Bahkan, virus tersebut sudah sangat cepat merambat dan menginfeksi pemuda-pemuda Islam yang sengaja membatalkan pemahamannya tentang buruknya perjudian, demi sebuah program yang entah dengan cara apa algoritmanya berjalan.


Kerugian Negara sendiri akibat judi online, tertaksir senilai 27 Trilliun Rupiah per tahun. Nilai yang apabila diakumulasikan, kita bisa membangun 3 stadion sepak bola yang standar dan kualitasnya setara dengan Stadion Santiago Bernabeu, atau dengan angka tersebut juga, kita bisa membangun menara yang semegah dan semewah menara Burj Khalifa. Namun sayang, 27 Trilliun Rupiah, lenyap begitu saja dari roda perekonomian bangsa, ditelan oleh bandar-bandar yang bahkan kita tidak tahu siapa.


Untuk mengkaji isu tersebut, kami berupaya untuk menawarkan sebuah sudut pandang baru mengenai perjudian. Tetapi ini sedikit ekstrem, karena kita akan tetap berjudi, namun bandarnya adalah Tuhan.


Di mulai dari, “Tuhan tidak bermain dadu”, sebuah kalimat yang Einstein utarakan untuk membantah Hukum Ketidakpastian Heissenberg, yang berbicara tentang gerak suatu partikel dalam pengamatan kecepatan dan posisinya. Artinya, menurut Einstein, alam semesta ini telah teratur sedemikian rupa dengan suatu prinsip, tetapan dan konstanta yang seharusnya bisa ditaksir setiap nilainya, sehingga alam semesta beroperasi berdasarkan hukum-hukum yang konsisten. Einstein percaya bahwa ada orde atau aturan yang mendasari alam semesta, dan bukan semata-mata hasil dari permainan dadu acak.


Dari perspektif lain, Tuhan tetaplah pemain dadu. Namun, sementara dadu yang dilempar atas kuasanya merupakan keteracarakan bagi sudut pandang manusia, Tuhan telah menetapkan polanya yang berupa garis-garis takdir agar manusia senantiasa berpikir. Dengan mesin slot yang kita mainkan itu lah, Tuhan memberikan pola-pola acak yang kemudian seolah memainkan kejiwaan kita pada senangnya ketika menang dan “rungkadnya” ketika kalah. Lewat sinyal itu, sebenarnya muara kepastian dari keteracakan yang Tuhan ciptakan, adalah keruncingan pada pemahaman kita bahwa berhenti berjudi adalah kemenangan yang sesungguhnya. Jadi, berhenti dalam berjudi merupakan sebuah prinsip dan konstanta tetap yang perlu dipahami para sloter.


Tuhan juga maha bandar. Sementara bandar-bandar lain yang hidup di dunia ini menawarkan “Menang, Seri, atau Kalah” di atas meja perjudiannya. Tuhan kita adalah satu-satunya bandar yang menyediakan kemenangan mutlak bagi para pemainnya. Kenapa demikian? Kita Simak beberapa rules dalam perjudiannya berikut.

 

Pengali 700x Lipat

Dalam firmannya, surah Al-Baqarah ayat 261, Allah SWT berfirman yang artinya, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Dengan wahyu tersebut, seolah bandar kita sedang berbicara dan menetapkan, “ayolah wahai para pemain-pemainku, pasangkanlah taruhan itu di atas meja (jalan) ku, maka akan kuganti 700 kali lipat”. Mampukah kita berpikir dan menjawab bahwa “apakah ada bandar sedermawan Tuhan kita?”, yang memberikan keuntungan ratusan kali lipat itu.

 

Royalti 1000%

Allah SWT juga menetapkan peraturan lain dalam wahyu nya, yaitu surah Al-An’am ayat 160, yang artinya, “Siapa yang melakukan kebaikan, maka ia akan mendapatkan balasan 10 kali lipatnya”.

Komisi yang didapatkan para influencer untuk mempromosikan website judi hanya bernilai 5-10% saja. Sementara Allah SWT memberikan persentase keuntungan 1000% kepada siapa saja yang memasang kebaikan di atas jalannya. Tentu apabila demikian, maka sebaik-baik website gacor, adalah wahana kehidupan yang Allah SWT ciptakan. Maka beruntunglah kita sebagai hamba yang sedang berada di dalam website-Nya.

 

Waktu Untuk All in

Pernah sampai ke telinga kita, selaku para penjudi, bahwa ada waktu-waktu tertentu di mana RTP (return to player) di sebuah website judi online sedang dalam persentase tinggi. Dalam kondisi yang demikianlah, para penjudi berasumsi bahwa mereka akan lebih mudah mendapatkan kemenangan di waktu-waktu tersebut.


Sementara itu, hal yang demikian juga serupa apabila kita berjudi di jalan Allah SWT. Melalui Sabda Nabi Muhammad SAW, seolah ada additional rule tentang rentang waktu akan keutamannya. Hal ini diabadikan dalam hadits Nabi Muhammad SAW dari Abu Hurairah,


Dengan bersedekah di pagi hari, maka Allah mengutus malaikatnya untuk mendoakan siapa saja yang menyedekahkan hartanya.


“Tidak ada satu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; “Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya”, sedangkan yang lainnya berkata ’ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan (hartanya)”.


Jelas bahwa pagi hari, RTP-nya Allah SWT sedang tinggi.

 

Lantas apakah maksud puluhan dan ratusan kali lipat itu merujuk pada lipat gandanya objek yang kita judikan? Apakah uang 10rb yang kita judikan di jalan Allah SWT dalam tempo singkat akan menjadi uang 7jt rupiah?


Sepenuhnya mungkin tidak, barangkali dari uang 10rb yang kita pasang itu, kita hanya mendapatkan sebagiannya saja dari 7jt rupiah, sementara sisanya, Allah SWT konversi dalam bentuk rezeki lain, yang berupa kesehatan, keselamatan, pertemanan, rumah tangga dan keluarga yang harmonis. Serta bentuk-bentuk rezeki lain yang kemudian membuat kita senantiasa bersyukur dan kecanduan berjudi dengan Tuhan yang maha bandar itu.

 

Demikianlah representasi liar dari penulis tentang sebuah sudut pandang perjudian yang dimaksud. Tentu pembaca sekalian memahami konotasi “Berjudi dengan Tuhan” itu adalah perbuatan berupa sedekah, infaq, dan mengerjakan kebaikan yang disukai oleh Allah SWT.